sedang duri yang pernah merajah jantungmu saja tak pernah tau
entah kenapa kau menangis jika kau yang memintanya tertawa
lentik memang sorot matamu merayu yang mungkin menutup sendu
yang terlihat hanya bejana itu retak dantak mampu lagi terisi air cinta
demi apa aku tak mengerti
aku yang tengah terdiam
nan terasa bimbang menyayat hati
siang dan malam letihnya aku berlari
untuk apa bersandar bila semua tak berarti
sedikit pun harapan yang mungkin terjadi
indah tidaknya tetap saja kau telah menjadi puisi
(aku adalah pelukis dan sebuah kanvas kosong)


